Ketika Bapak Mertua Akhirnya Kena Covid-19

| Tuesday, 22 June 2021 |

Beberapa hari yang lalu, pagi hari, bapak mertua saya harusnya mendapatkan tindakan DSA untuk mengobati stroke-nya. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dites, bapak ternyata positif covid. Tindakan DSA urung dilakukan. Sebagai gantinya, beliau harus menjalani perawatan di ruang isolasi.

Bapak saya tidak bisa berbicara dengan lancar, satu-satunya kata yang ia lancar untuk mengatakan hanya “bismillah”. Kaki tangannya pun tak bisa bergerak sempurna. Tak mungkin ia menghabiskan masa isolasi dengan kondisi seperti itu sendirian. Maka, Kalis pun mengambil risiko untuk menjaga bapak.

samuri pasien covid-19
Bapak mertua di ruang isolasi RS Bethesda.

Segala proses tetek bengek itu benar-benar membuat kami lelah. Saya kemudian mencoba untuk mengambil tes swab. Agar cepat, saya memilih untuk tes secara drive thru di salah satu rumah sakit. Sial, ternyata drive thru hanya diperuntukkan untuk mereka yang pakai mobil, untuk yang pakai motor, harus antri manual di poli. Tentu ini bukan salah mereka, namanya juga drive thru, bukan ride thru. Maka, tubuh saya yang sudah amat lelah harus kembali menahan kelelahan yang lain. Mengantri terkadang sambil berdiri sebab seluruh kursi yg boleh diduduki sudah penuh.

Saya pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar antri swab. Malam harinya, hasilnya keluar. Saya negatif. Hal itu sedikit memberikan penghiburan pada saya.

Hari-hari berikutnya saya lalui dengan perasaan yang aneh. Kalis di ruang isolasi, sedangkan saya bertugas untuk bolak-balik rumah-ruang isolasi untuk menyuplai segala kebutuhan dia dan bapaknya. Susu, makanan, buah, air minum, obat, tissu, popok, dan sebangsanya.

Saya dan Kalis hanya bisa saling menguatkan melalui pesan singkat. Hal yang membuat apa saja pesan darinya menjadi sangat sentimentil.

chat kalis

Hari ini, Kalis mengabari, kalau oksigen se-Jogja habis. Bapak saya tidak bisa menggunakan oksigen kecuali hanya kalau saturasi di bawah 90. Kalis tentu amat takut.

“Apakah masih ada keajaiban buat semua ini, Mas?” tulisnya.

“Keajaiban kuwi mesti ono, Wong nggawe kowe gelem rabi karo aku we Gusti Allah gampang, opomeneh nggawe bapak sehat meneh. Sepele kuwi,” jawab saya.

Kami tak tahu, kapan ini semua akan berakhir. Saya tampaknya benar-benar sudah berada di fase “Pengin sambat tapi isin karo bojone dhewe.” Apa yang saya lakukan dalam pertarungan ini tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dilakukan oleh istri saya.

Minggu lalu, minggu ini, dan juga minggu depan, entah sampai minggu kapan lagi, tampaknya masih akan tetap menjadi minggu yang berat bagi kami.

Dalam perjalanan pulang tadi dari rumah sakit, saya tak langsung pulang. Saya berputar-putar keliling Jogja. Hanya untuk menangis. Saya melaju dengan kecepatan yang amat pelan, sambil sesekali meneriaki mobil-mobil yang terus mengklakson laju motor saya yang pelan. “Bajingaaaaan!” “Asuuuuuu!”

Saya tak tahu, apa lagi yang bisa saya lakukan. Saya hanya bisa berdoa, lalu berikhtiar membeli barang apa saja yang dijajakan oleh pedagang yang saya lihat di jalanan meski uang saya mulai menipis dan saya tak butuh barang itu: geblek, tape ketan, sapu, dan banyak barang-barang lainnya. Kiranya Gusti Allah mau menyembuhkan bapak mertua saya atas apa yang sudah saya lakukan.

Ya Allah, maafkan saya. Saya pamrih. Dan cengeng.




Buku Agus Mulyadi

0 komentar :

Post a Comment

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger