Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Undangan Dangdut Rembol

| Monday, 6 February 2023 |

Kawan saya Paijo mengirimi saya pesan ini kemarin Jumat. Itu pesan yang amat sepele belaka sebenarnya, namun ketika saya membacanya, seketika langsung hangat hati saya.

paijo

Melalui pesan singkat itulah, saya tahu bahwa kawan-kawan di kampung saya, Seneng Banyurojo, bikin hajatan: menanggap dangdut kecil-kecilan, untuk kemudian kami nikmati bersama, sambil ngobrol, sambil mabuk, sambil bergosip tentang kawan-kawan kami yang tidak hadir, dan sambil membicarakan hal yang sebenarnya itu-itu saja.

Terharu juga saya, sebagai warga kampung Seneng yang sudah lama “pindah” ke Jogja, tapi masih tetap dianggap orang Seneng dan diminta ikut meramaikan dangdutan.

Tentu saja saya tidak akan ikut mabuk, begitu pula Paijo. Dalam lingkaran pergaulan di Seneng, saya memang menjadi salah satu yang tidak minum. Sedangkan Paijo, ia sudah libur mimik wedang galak sejak setahun lalu setelah livernya kena.

Rembol (Kere nggrombol), begitulah kami menyebut diri kami, dan “Guyub rukun remaja Seneng” menjadi tema yang selalu kami usung dalam setiap acara dangdutan yang kami helat. Kami memang menolak tua. Kami ingin terus menjadi remaja. Setidaknya untuk sejenak, saat kami berkumpul bersama.

Kami sering berdebat, cekcok, sesekali berkelahi satu sama lain. Tak jarang, itu terjadi karena masalah yang sepele. Masalah yang ketika dipikir dengan sedikit saja akal sehat, niscaya akan menghasilkan kesimpulan “Asuu, jebul mung mergo koyo mono”.

Dan seperti sebuah mantra yang mujarab, kalimat “guyub rukun remaja Seneng” ini seakan selalu mampu menjadi pengingat, bahwa kami senantiasa bisa kembali berdamai dan berkumpul lagi.

Tahun 2015, ketika saya mulai tinggal di Jogja, saya menemukan lingkungan pergaulan baru yang walau sangat menyenangkan namun “kelewat akademik”. Nyaris semua kawan-kawan saya di Jogja sarjana semua. Beberapa di antaranya bahkan memilih jalan melelahkan dengan mengambil S2 atau malah menjadi dosen.

Tentu saja itu lingkungan pergaulan yang sangat berbeda dengan lingkungan pergaulan saya di Seneng. Di Seneng, hanya sedikit kawan kami yang melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Kami seperti berjarak amat jauh dengan kampus, bahkan walau kampung kami dikepung beberapa perguruan tinggi. Gegar budayanya terasa sekali.

Di Jogja, saya sering mendapatkan pertanyaan “Dulu kuliah di mana?” sedangkan saat di Seneng, pertanyaan yang lebih akrab saya terima adalah “Sekarang kerja apa?”

Sebagai orang yang tidak pernah kuliah, sejujurnya, saya lebih menyukai pertanyaan yang kedua. Memang gelar akademik bisa membawa seseorang pada derajat hormat yang lebih tinggi, namun bagi saya, tentu saja pertanyaan kedua jauh lebih bisa menggiring saya pada kemartabatan yang bermutu.

Lagipula, pertanyaan pertama, selain agak salah sasaran, juga lebih sering menggiring si penanya kepada rasa tidak enak kepada saya, rasa tidak enak yang kemudian perlu ditebus dengan kalimat “Wah, nggak papa, Mas, nggak kuliah, yang penting terkenal yo, Mas.”

Pada titik tertentu, bersama kawan-kawan Rembol, tampaknya saya sangat menikmati ketidakakademisan kami. Sejujurnya, dalam ketidakakademikan itulah, saya merasa sering menemukan kenakalan-kenakalan intelektual yang artistik.




Sawer blog ini

6 comments :

  1. Saya sangat ingin orang-orang bisa membaca tulisan Saya, tanpa harus diganggu oleh iklan-iklan yang tidak relevan seperti blog mas Agus ini.

    ReplyDelete
  2. Donpet Kulit pria

    wahh keren sudah lama tidak bersua di blognya
    mas agus dari tahun 2016 hhe

    ReplyDelete
  3. Dulu di kampung saya kalau ada hajatan, malam nya sering main organ tunggal. Tapi sekarang sudah jarang sebab sering terjadi perkelahian hanya gara-gara mabuk-mabukan. Padahal minum nya dikit doang 不

    ReplyDelete
  4. https://typeidn.blogspot.com/2023/06/blog-post_13.html?m=1

    ReplyDelete

Tentang Saya

Saya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gus Mul (bukan lulusan pesantren seperti Gus Dur, Gus Muh, maupun Gus Mus. Gus Mul hanya akronim dari nama saya). Blogger dan Freelance Layouter. Kini berusia 24 tahun. Aktif di Karang Taruna dan Komunitas Blogger Magelang Pendekar Tidar. Profil lebih lengkap, Lihat Disini
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger