Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Snack Delay ala Lion Air

| Wednesday, 8 August 2018 |

Sebagai warga negara yang lemah dengan keuangan yang jauh lebih lemah lagi, saya tentu saja tak kuat naik Garuda kalau harus bepergian ke luar kota, mentok saya memang cuma kuat naik Lion Air.

Dan seperti yang sudah-sudah, maskapai yang satu ini memang terkenal sering delay.

Dan ealah, lha kok benar belaka, kemarin, saya terpaksa harus menikmati ujian kesabaran yang satu itu. Pesawat saya delay. Saya tentu saja tak bisa berbuat banyak, yah, bayar murah kok minta tepat waktu. Ngimpi.

Sebagai penebus rasa bersalah atas keterlambatannya, Lion kemudian memberi saya sedikit snack sebagai pengganjal perut, dan mungkin juga pengganjal amarah. Snack yang mereka berikan bukan snack main-main: biskuit “Biskuat”, choco chips “Good Time”, dan air mineral gelas merek “Prim-a”. Saya pria baik. Tentu saja menerimanya dengan senyum, walau tentu saja, hati rasanya dongkol.



Saya merenung sejenak, hingga akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: mungkin ini memang jalan dari Tuhan melalui Lion Air agar saya berkontemplasi. Memahami makna tersirat dan subtil dari snack yang diberikan. Mungkin inilah bentuk doa Lion Air untuk para penumpang yang terlambat terbang melalui snack yang mereka berikan.

“Semoga para penumpang yang kena delay tetap punya waktu yang baik (Good time), tubuh yang sehat dan prima (Prim-a), serta badan yang kuat seperti macan (Biskuat)”



Ebook Agus Mulyadi

5 comments :

  1. good time seharusnya tepat waktu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget nih mbaknya.. hahaha mungkin karena gak tepat waktu. harapan minta maafnya dikasih good time hehe

      Delete
  2. hahahaha... ane juga pernah ngalamin mas
    dan mas nya bisa aja melihat sisi baik dari snack yg diberikan
    asli ngakak ane mas :D

    ReplyDelete
  3. kocak bat mas nya... wkwk. Mampir ya mas ke BandungPunya

    ReplyDelete
  4. sungguh menerapkan nilai filosofis pada segala aspek kehidupan

    ReplyDelete

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger