Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Sugeng Tindak, Den Baguse Ngarso

| Monday, 21 September 2026 |

Ada semacam kesedihan yang sentimentil dalam diri saya saat mendengar kabar bahwa Pak Susilo Nugroho, atau yang lebih populer sebagai Den Baguse Ngarso meninggal dunia sore ini.

Saya mungkin bukan bagian dari lingkar terdalamnya, juga bukan orang yang sering berbagi panggung dengannya. Namun, bagi saya, Pak Sus (begitu saya biasa memanggilnya) menghadirkan kesan yang sangat mendalam.

Tak bisa tidak, beliaulah orang pertama yang memberikan saya kepercayaan diri untuk berani berakting.

Saya memang seorang penulis, tetapi nasib membawa saya untuk beberapa kali mencicipi kehidupan artifisial sebagai seorang aktor di beberapa film.

Film pertama saya berjudul “Jomblo Juga Keren” yang disutradarai oleh Dona Roy dan diproduksi oleh Dinas Kebudayaan DIY. Di Film ini, saya berperan sebagai tokoh utama bernama Roy, seorang anak SMA tengil dan miskin yang jatuh cinta kepada teman satu kelasnya. Sementara Pak Sus berperan sebagai Pak Beye, bapak saya.

den baguse ngarso

Bayangkan, pengalaman pertama berakting dan langsung beradu dialog dengan Den Baguse Ngarso, nama raksasa yang rekam jejak keaktorannya sudah mengakar sangat dalam di tanah Jogja.

Di hari-hari pertama syuting itu, saya menjelma menjadi makhluk paling menyedihkan. Saya gugup, gemetar, dan tentu saja, sering mengacau. Kalau boleh jujur, semacam sedikit nervous, banyak gobloknya. Namun, di tengah kekacauan itu, Pak Sus hadir bukan sebagai bintang besar yang angkuh. Ia justru hadir menjadi seorang senior yang menenangkan, seorang senior yang merangkul dan ngayem-ayemi saya dengan kesabaran luar biasa.

den baguse ngarso

Setiap kali saya salah blocking, terbata-bata, atau mendadak lupa naskah sehingga harus di-cut oleh sutradara, saya selalu merasa tak enak hati, sebab bukan saya saja yang kemudian harus mengulang adegannya, melainkan juga para pemain lain, tak terkecuali Pak Sus.

“Ngapunten nggih, Pak Sus, barusan saya lupa dialognya,” kata saya. Kalau tak salah ingat, itu adalah permintaan maaf saya yang kedua untuk sebuah adegan yang kami mainkan.

Pak Sus tersenyum, tidak ada raut jengkel sama sekali.

“Santai wae, Le, jenenge syuting yo ancen ngono kuwi. Umpomo awakmu ora lali dialog, yo tetep dibaleni kok.”

Kalimat itu mungkin terdengar seperti angin lalu bagi orang lain, tapi bagi saya yang sedang dililit ketakutan, kata-kata itu bekerja selayaknya mantra. Apa yang ia katakan adalah kebenaran murni dalam dunia syuting: sebagus apa pun akting kita di percobaan pertama, sutradara akan tetap menuntut pengambilan gambar berulang demi stok alternatif, walau pada akhirnya yang akan dipakai adalah shoot yang pertama.

Harus saya akui, kalimat itulah yang kelak saya tanamkan dalam diri saya sehingga saya mulai punya kepercayaan diri untuk tidak takut salah dalam proses syuting-syuting berikutnya.

Pak Sus tak sekadar jago menenangkan, ia juga manifestasi dari kesederhanaan. Di tengah ingar-bingar dunia seni peran, saya tak pernah sekalipun melihatnya menuntut riders aneh-aneh atau perlakukan istimewa. Sering kali, saya mendapatinya duduk santai saat jeda syuting, menyantap bekal nasi jagung dan menyesap teh hangat yang ia bawa sendiri dari rumah.

Pak Sus seorang pencair suasana yang baik. Sering sekali ia melemparkan celotehan-celotehan spontan yang lucu dan menjadi hiburan bagi pemain dan kru yang mungkin sedang lelah dan letih selama menjalani proses syuting.

Pernah suatu ketika, seorang telco (talent coordinator) menawari Pak Sus yang barangkali pengin nitip beli rokok karena si telco mau membeli sesuatu di toko kelontong tak jauh dari lokasi syuting.

“Njenengan bade nitip rokok nopo mboten, Pak Sus?” tanya si telco.

“Oh yo, sisan yo, rokok … sak bungkus,” jawab Pak Sus menyebut nama salah satu merek rokok yang saya lupa apa mereknya.

Singkat cerita, rokok pun dibeli dan diserahkan kepada Pak Sus oleh si telco.

Pak Sus kemudian merogoh sakunya untuk mengambil uang yang akan digunakan untuk membayar rokoknya itu.

Melihat Pak Sus merogoh saku, si telco segera mencegahnya, “Mboten usah, Pak Sus, mboten usah, ini sudah ada budgetnya kok.”

Demi mendengar penjelasan tersebut, Pak Sus langsung merenges dan menjawab, “Nah, aku pancen nunggu kowe ngomong ngono, soale ning sak-ku asline yo ra ono duit.”

Gatheeeeeel.

Saya yang berada di sebelah Pak Sus persis sontak langsung tertawa, begitu pula telco dan beberapa kru yang menyaksikan adegan tersebut. Benar-benar senior pencair suasana. Ia tahu persis kapan harus membangun panggung kebahagiaan di tengah rasa letih.

kru film

Kelak, dalam beberapa kesempatan, saya masih lumayan sering berjumpa dengan Pak Sus, dan ia masih tetap Pak Sus yang celetukan-celetukannya menghibur dan ngangeni.

Selama ini saya masih cukup rutin menonton pertunjukan Ketoprak Conthong di TBY, salah satunya ya demi menyaksikan celetukan-celetukan Pak Sus.

Maka, ketika hari ini berita kepulangannya mengetuk telinga, ada bagian dari masa lalu saya yang ikut runtuh. Saya kehilangan seorang pembimbing tanpa pamrih.

Doaku hari ini, semoga Pak Sus tenang di alam sana, dan semoga ia senantiasa penuh dengan tawa, seperti orang-orang yang ia hibur dengan guyonan dan celetukan-celetukan nggathelinya.

Sugeng tindak, Pak Sus. Sugeng tindak, Den Baguse Ngarso. Kula nyekseni, panjenengan tiyang sae.

den baguse ngarso meninggal dunia



Ebook Agus Mulyadi

0 komentar :

Post a Comment

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger