Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Sedikit Hansip Banyak Bansernya

| Wednesday, 2 September 2026 |

Maghrib tadi saya pulang ke rumah Magelang. Kakak dari salah satu kawan saya meninggal dunia kemarin sore. Saya meniatkan pulang untuk lek-lekan hari kedua. Harusnya saya pulang kemarin, tetapi kemarin saya tidak enak badan, semacam masuk angin yang disertai dengan kepala nggliyeng.

Sesampainya di rumah, saya tidak menemukan bapak saya.

“Sedang ada dines,” kata ibu saya.

“Nggak ikut lek-lekan?”

“Sudah kemarin, sekarang jatahnya dines.”

Dines yang dimaksud ibu adalah bertugas sebagai banser. Sejak lulus diklatsar beberapa tahun yang lalu, bapak memang jadi sering kebagian jatah jaga tiap kali ada acara pengajian yang dilaksanakan di wilayah Mertoyudan dan sekitarnya.

Saya senang bapak punya banyak kegiatan di masa-masa tuanya. Bagi saya, itu adalah keasyikan dan kesibukan tersendiri buat bapak selain momong cucu-cucunya.

Setahu saya, bapak saya lumayan aktif di empat komunitas kolektif. Kolektif pertama adalah grup penggali kubur. Di grup ini, bapak saya lebih banyak berposisi sebagai ice breaker ketimbang gravedigger, sebab ia memang lebih sering menghabiskan porsi waktunya untuk bercanda dan prengas-prenges ketimbang menggali tanah kuburan.

Kolektif kedua adalah Bravo atau Banyurojo Volunteer, semacam grup relawan desa yang aktif diperbantukan untuk membantu masalah-masalah kebencanaan yang terjadi di desa. Kolektif inilah yang membuat bapak saya mulai terbiasa menyebut kasus orang tenggelam bukan sebagai “wong klelep” melainkan sebagai “laka air”.

Kolektif ketiga adalah Hansip alias Linmas. Ini identitas yang melekat pada diri bapak dan nyaris abadi, sebab sudah puluhan tahun bapak mengemban identitas ini. Pemilu tanpa bapak adalah pemilu yang kurang satu. Dialah ujung tombak demokrasi.

Nah, kolektif terakhir adalah banser. Bapak saya ikut diklatsar bersama beberapa kawannya satu dusun dan dinyatakan lulus. “Diniati melu ngaji,” kata bapak dengan prengesan khasnya.

Bapak saya punya kebanggaan tersendiri tiap kali bisa menjaga pengajian, terutama saat mengawal kiai. Ia sering tidak paham siapa kiai yang ia kawal, yang jelas, asalkan Gus atau kiai, bakal ia ladeni. Sesekali ia mengirimi saya foto dirinya saat sedang mengawal seorang gus atau kiai di sebuah pengajian.

Dalam kesempatan yang tak sering, bapak beberapa kali bercerita dengan penuh kebahagiaan saat ada Gus atau kiai yang mengenali dirinya karena mereka tahu bahwa ia bapak saya. “Wah, ini Pak Trimo bapaknya Mas Agus, nggih?”

Dalam momen yang tidak sering itulah saya merasa punya kebahagiaan tersendiri karena bisa membuat bapak dikenali oleh seorang gus atau kiai. Saya pikir, itulah salah satu dari sangat sedikit kesempatan saya sebagai seorang anak untuk membuat bapak saya bangga. Bahwa anaknya yang pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat itu gagal menjadi orang penting atau pejabat tinggi, tetapi setidaknya anaknya kenal dan dikenali lumayan banyak gus dan kiai.

Tadi saat duduk di acara lek-lekan, sebuah chat WA masuk. Saya buka chat itu, ternyata dari Wahyu, kawan SMA saya yang menginfokan kehadiran bapak saya di acara pengajian di dekat rumahnya.

“Terpantau mengamankan area Bagongan malam ini” tulisnya disertai foto dirinya bersama bapak saya. “Pengajian Abah Anza” lanjutnya di chat berikutnya.

banser

Saya melihat foto tersebut. Bapak saya berpose mengacungkan jempol sambil merenges. Ia tampak sumringah dengan seragam banser kebanggaannya. Nametag “M. FRENGKY”, nama panggilan akrabnya, terpajang jelas di dada sebelah kanan.

Dalam ke-merenges-an bapak itulah, saya melihat semangat ber-NU yang sebenarnya. Semangat meramaikan pengajian, semangat ngajeni kiai.

Bagi saya, banser-banser di kampung seperti bapak dan kawan-kawannya itu, guru-guru ngaji di TPQ dan pengajar madrasah, para jamaah rutinan pengajian yang aktif di satu pengajian ke pengajian yang lain, kader-kader yang berkeliling mengedarkan kencleng Lazisnu, ibu-ibu Muslimat yang aktif mendampingi usaha rumahan, mereka-mereka itulah para penggerak NU yang sebenarnya.

Hari ini, di tengah pro-kontra beserta aneka luapan kekecewaan banyak orang atas hasil muktamar terkait kepengurusan PBNU, melihat senyum bapak saya ternyata sudah lebih dari cukup untuk membuat saya masih bangga dan mencintai NU, bahkan walau saya bukan seorang NU.

Lamat-lamat, saya jadi ingat dengan celetukan seorang kawan, “Apakah kita bisa mencintai NU tanpa harus peduli pada PBNU-nya?”

Kawan saya yang lain memberikan jawaban yang saya kira sangat tepat: “Tentu saja bisa, toh selama ini kita mencintai Indonesia tapi membenci setengah mati isi kabinet dan anggota dewannya.”



Ebook Agus Mulyadi

0 komentar :

Post a Comment

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger