Musim ini, toko buku kecil saya, Akal Buku, kembali menjadi sponsor buat PPSM Magelang di kompetisi junior. Ini tahun ketiga bagi saya dan Akal Buku menjadi sponsor buat tim sepakbola yang usianya sudah lebih dari 100 tahun ini.
Bagi saya pribadi, menjadi sponsor untuk PPSM masih dan akan selalu menjadi momen yang sangat sentimentil. Sejak kecil saya sudah menonton PPSM, sering menulis tentang PPSM, dan saat dewasa, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ikut menjadi sponsor bagi PPSM.
Saya tumbuh dengan kenangan sorak-sorai mendukung PPSM di Stadion Abu Bakrin, dengan segala umpatan dan cacian di tepi lapangan, bau minyak angin serta suara berisik penjaja arem-arem yang menyusuri tribun.
Maka, keputusan menaruh logo toko buku independen di jersey tim sepak bola lokal Magelang ini adalah cara saya untuk merayakan kenangan masa kecil. Sebab, tidak bisa tidak, PPSM-lah tim sepakbola yang mewarnai masa kecil saya yang miskin dan muram. Ia turut membersamai kecintaan saya pada sepakbola. PPSM adalah salah satu fragmen yang mengisi ruang kegembiraan masa kecil saya.
Semua orang mungkin paham belaka bahwa PPSM bukan tim hebat. Ia adalah tim pas-pasan dengan kabinet piala yang nyaris kosong, tim yang berkawan karib dengan papan tengah dan papan bawah. Namun, cinta memang selalu dibentuk oleh “walaupun”, bukan oleh “karena”.
Saya paham bahwa sebagai sebuah tim sepakbola, PPSM penuh dengan borok dan kekurangan, tapi sialnya, saya tak pernah punya alasan yang cukup kuat untuk berpaling darinya. Lelaki-lelaki Magelang paham betul perasaan menyebalkan ini.
Bagi kami, lelaki-lelaki Magelang yang masih terus mendukung PPSM, keras kepala bukan lagi sifat, melainkan gaya hidup.
Konon, ada banyak cara menyiksa diri yang bisa dilakukan oleh pemuda Magelang. Dari sekian banyak cara itu, yang tersulit adalah masuk Akmil, dan yang termudah adalah masuk stadion Moch Soebroto.
Saya tak tahu, akan sampai kapan saya masih ingin menjadi sponsor untuk PPSM, tapi yang pasti, selama PPSM masih ada, saya akan terus mencoba mendukungnya, entah sebagai sponsor, entah sebagai penonton yang hadir di tribun stadion, atau sebatas sebagai bapak-bapak yang mendoakan kemenangan untuknya, semustahil apa pun itu.
Mendukung PPSM akan selalu menjadi kegilaan yang menyenangkan, sebab hidup ini sudah terlalu serius untuk dijalani dengan logika yang lurus-lurus saja.


0 komentar :
Post a Comment