Agus Mulyadi Njaluk Rabi

Kenangan yang tak Selalu Indah

| Monday, 22 June 2015 |



Kenangan akan sebuah tempat memang tak selalu berasal dari segala sesuatu yang indah-indah. Ada kalanya, saat kita berada di tempat yang baru, tempat yang teratur, dengan segala ritme kehidupan yang efisien, taktis, dan nyaman, kita justru rindu pada tempat lama, yang penuh dengan kesemrawutan dan seringkali membuat kita repot lagi tidak teratur.

Dalam salah satu tulisannya (kalau tidak salah, judulnya Sebuah Warung Kopi Di Lucky Plaza), Umar Kayam pernah menuliskan tentang kerinduannya akan Jogja, saat ia berada di Singapura. Dimana yang dirindukan oleh Umar Kayam saat itu justru bukan suasana yang hangat dari Jogja, atau keramahan orang-orangnya. Melainkan aroma khas dari bekas sampah yang baru saja disapu.

Seperti halnya kenangan, Kerinduan juga tak melulu tentang sesuatu yang indah-indah.

Maka jangan heran jika banyak laki-laki yang begitu meratapi perpisahannya dengan wanita yang sangat ia cintai, sungguhpun wanita tersebut adalah wanita yang doyan selingkuh dan sering sekali menyayat hati si laki-laki.

Alasanya satu: Mungkin Laki-laki memang selalu rindu untuk disakiti.

Tagline Iklan Televisi di Bulan Ramadhan

| Friday, 19 June 2015 |

Televisi jadul

Salah satu parameter euforia bulan Ramadhan yang paling kentara adalah iklan-iklan televisi yang mendadak jadi lebih Islami. Mendadak jadi lebih alim dengan aneka konsep khas bulan suci. Tapi itu wajar lah. Namanya juga strategi pasar.

Saya mengamati, Selama bulan ramadhan, banyak iklan-iklan produk di televisi yang berusaha memasukan unsur Ramadhan (atau minimal unsur islami) ke dalam materi iklannya. Hal ini bisa kita lihat dengan cukup jelas melalui tagline iklan yang ditampilkan.

Iklan salah satu produk pasta gigi, misalnya, selama bulan Ramadhan, iklan yang tayang biasanya menggunakan tagline berbasis bulan puasa, contohnya "Jaga kesegaran mulut selama ramadhan". Ada juga iklan minuman isotonik, yang kerap menggunakan tagline "Menjaga cairan tubuh selama berpuasa". Kemudian iklan salah satu minuman bersoda, yang tagline-nya "Segarkan Ramadhanmu". Atau yang paling mainstream, iklan minuman suplemen, dengan tagline andalannya "tetap kuat beraktivitas di bulan suci".

Beberapa iklan tadi saya anggap cukup berhasil, karena memang materi iklan dan produknya ndilalah sangat kontekstual dengan Bulan Ramadhan.

Namun tak selamanya iklan produk di televisi materinya relevan dengan nuansa Ramadhan, beberapa malah sering terlihat terlalu maksa karena mencoba memasukan nuansa ramadhan ke dalam materi iklannya.

Iklan salah satu produk tablet misalnya, tagline yang digunakan adalah "Serunya berkah ramadhan, makin besar dengan layar besar", ini jelas wagu, memangnya apa hubungannya berkah ramadhan dengan ukuran layar gadget? Oke, Memang sih, dengan layar gadget yang besar, sampeyan bisa melihat twitpic jadwal imsak dengan ukuran yang lebih besar pula. Tapi mbok ya please, itu bukan kontekstual namanya. Itu namanya... ah, sudahlah

Tapi itu pun masih mending, karena ternyata, masih ada iklan yang lebih maksa lagi, yaitu iklan pembalut. Tagline-nya "Tetap kering dan lincah di bulan Ramadhan". Hadeuuuh.

Untunglah selama ini saya belum pernah melihat ada iklan kondom berkonsep ramadhan, karena kalau sampai ada, mungkin tagline yang digunakan adalah "Bermain aman di bulan penuh berkah".

*terbit pertama kali di kolom Kompas Ramadhan

Sekali lagi, Trimo Mulgiyanto

| Wednesday, 17 June 2015 |

Sebagai penulis dan blogger yang merasa moncer (hehe, sombong dikit boleh lah, blog saya ini), saya merasa cukup populer di beberapa lingkungan pergaulan. Apalagi riwayat kiprah saya sebagai orang yang suka mengotak-atik foto artis telah membuat wajah saya sempat beberapa kali nampang di berbagai media online, cetak, maupun televisi.


Bersama Kiwil dan Tukul, Trio Pedang akhir zaman.

Maka tak heran jika kemudian saya sering kali merasa 'tegak' kalau pas di jalan ada orang yang menyapa (atau bahkan sambil minta foto bareng, hehe), “Eh, ini Mas Agus Mulyadi yang blogger itu ya?”, atau “Eh, mas ini yang suka ngedit foto bareng artis itu kan?”

Namun belakangan, baru saya sadar, bahwa untuk urusan kepopuleran, agaknya saya masih cukup inferior kalau dibandingkan dengan bapak saya.

Pernah suatu kali, sehabis menghadiri acara di Jogja, saya terpaksa pulang kemalaman. Sampai di Artos (nama mall di Magelang yang sering digunakan untuk lokasi jujugan naik turun penumpang Magelang-Jogja) sudah sekitar jam 9 malam, sudah tidak ada angkot yang melayani trayek ke arah rumah saya (di Magelang, angkot lokal cuma beroperasi sampai jam delapan malam).

Rumah saya berada di Kampung Seneng (iya, nama kampung saya memang kampung Seneng, Kampung bahagia). Jarak dari Artos ke Seneng sebenarnya cukup dekat, kalau memang niat, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namun karena waktu itu barang bawaan saya cukup banyak, dan lagi juga sudah malam, maka tak elok rasanya kalau seorang Agus Mulyadi harus jalan kaki (hehe). Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek.

“Mas, Seneng-nya sebelah mana?” tanya Si Tukang ojek di tengah-tengah perjalanan

“Seneng Kulon kali pak, deket Mushola Nurul Hidayah” jawab saya mencoba memberi ancer-ancer

“Kalau sama rumahnya Pak Trimo mananya?”

“Lha saya ini anaknya pak Trimo pak!”

Si Tukang ojek tercekat, “Oalah, jebul anake pak Trimo tho!”

Kali lain, akun facebook saya pernah pernah di add sama orang Surabaya, saya tak tahu apa alasan orang tersebut menambahkan saya sebagai teman. Mungkin ia pernah membaca blog saya, mungkin. Maka, sebagai orang yang menjunjung tinggi Pancasila terutama sila ke tiga, permintaan pertemanan beliau langsung saya terima. Tak berselang lama, beliau ini langsung mengirimkan pesan chat pada saya.

“Mas, sampeyan Magelangnya mana?” Kata beliau

“Seneng mas, depan Kompleks perumahan akademi militer,” jawab saya

“Heee, Seneng? Kalau sama Pak trimo sebelah mananya?”

“Saya ini anaknya pak Trimo mas!”

Pada kesempatan lain, Sewaktu saya bertugas menjadi gaet untuk bule yang ingin berlibur ke Borobudur, si sopir yang mengantarkan kami dari Hotel ke Borobudur berbincang singkat dengan saya.

“Mas, sampeyan kursus bahasa inggrisnya berapa lama?”

“Wah, saya ndak pernah kursus pak, saya belajarnya cuma lewat internet, lagian, saya ini bahasa inggrisnya juga masih ecek-ecek, ndak mudeng sama tenses dan tata bahasa, yang penting bule yang diajak ngomong bisa ngerti”

“Tapi kok ngomongnya bisa lancar gitu mas? apa rumah sampeyan memang di deket Borobudur mas? jadi bisa latihan ngomong sama bule-bule disitu”

“Ah, ndak kok pak, rumah saya di daerah Mertoyudan sini kok, sama Hotel juga ndak jauh”

“Memangnya rumah sampeyan mana, mas?”

“Seneng, dekat perumahan akademi militer?”

“Oalah, Seneng tho” kata pak Sopir sambil kelihatan merenung “Kalau ndak salah, saya punya temen di Seneng!” lanjutnya

“Siapa pak, barangkali saya kenal” tanya saya penasaran.

“Trimo, kamu kenal sama Trimo?”

“Saya anaknya!!!”

Semenjak saat itu, saya semakin sadar, bahwa tokoh yang sanggup mengguncang dan membahayakan eksistensi saya di Kampung Seneng, agaknya adalah bapak saya sendiri.

Padahal setahu saya, karir bapak dulu sebagai pemain ketoprak juga ndak moncer-moncer amat, terlebih lagi, saya juga yakin, bapak saya tak punya Klout Score yang mumpuni.

Huh! Awas kau pak, tunggu pembalasanku. Dasar musuh dalam selimut.


Agus "banderas" Mulyadi, dan Trimo "Franky" Mulgiyanto

Akhirnya, Bakar-bakaran Ikan Nila

| Tuesday, 16 June 2015 |

Sejatinya, Saya dan beberapa personel Cah Cinta Enterpres* (Nico, Paijo, Gembus, Abed, Pitik, dan Kebo) sudah berkali-kali berencana untuk mengadakan acara 'bakar-bakaran' di halaman rumah saya. Namun entah mengapa, rencana demi rencana yang kami susun selalu saja kandas di tengah jalan. Menguap begitu saja, tak pernah terlaksana.

Kami sempat gelisah. Ya, maklum lah, lha wong sudah berkali-kali direncankan, kok tetap saja gagal.

Dan agaknya Tuhan benar-benar paham dengan kegelisahan hambanya.

Maka, dengan segenap kasih sayangnya, Tuhan akhirnya memberikan kesempatan bagi kami untuk bisa menghelat acara bakar-bakaran. Dan Alhamdulillah, setelah menunggu sekian lama, acara bakar-bakaran yang sudah kami nanti-nantikan akhirnya terlaksana juga.


Anglo, salah satu alat tercanggih yang pernah dihasilkan oleh peradaban

Acara bakar-bakaran ini terlaksana justru karena sama sekali tidak direncanakan. Sama persis seperti Cinta, yang sering hinggap tanpa pernah direncanakan sebelumnya, dan justru sering kandas saat berada dalam hati yang penuh perencanaan. #Eh...

Oke, saya cerita sedikit ya.

Jadi ceritanya begini. Kemarin itu, Saya berkunjung ke rumah nenek saya di Kaliangkrik (sebuah daerah di lereng gunung Sumbing), karena memang sudah cukup lama saya tidak menengok nenek di kampung. Ealah, Jagad dewa bathara, lha kok ternyata momennya pas. Pas saya kesana, pas kolam ikan di tempat nenek saya sedang dikuras dan dipanen ikannya. Duh Gusti, indah sekali hidup ini.

Maka, segera saja saya keluarkan jurus andalan saya, Jurus 2M: Mekso dan Melas.

Dan hasilnya ternyata tak terlalu mengecewakan, jurus 2M saya masih cukup ampuh dan mumpuni. Nenek saya berbaik hati mengoleh-olehi saya sebagian dari hasil panen ikannya. Alhasil, Satu kresek penuh ikan nila pun berhasil saya kudeta.

Saya pun langsung menghubungi kawan-kawan saya untuk segera patungan uang untuk membeli ubo rampe bakar-bakaran. Kawan-kawan pun mengiyakan. Dan acara bakar-bakaran pun kelihatanya bakal berlangsung seru (Namun sayang, Paijo dan Pitik kelihatannya absen karena sedang ada kepentingan yang lebih krusial. Jadilah tersisa hanya kami berlima: Saya, Gembus, Abed, Niko, dan kebo).

Sore harinya, begitu saya pulang dengan membawa satu kresek ikan nila, kawan-kawan saya langsung menyambut saya dengan wajah-wajah sumringah khas pribumi nusantara. Dan tanpa menunggu komando, kami langsung bergerak taktis membeteti ikan-ikan nila yang saya bawa. Dengan cekatan, kami mengeluarkan jeroan nila-nila malang tersebut.

Paman saya yang ndilalah melihat kami sedang membeteti ikan-ikan nila pun langsung bersimpatik dan ikut terjun membantu. Beliau bahkan sempat ingin ikut menyumbang tambahan ikan nila pada kami. Namun sumbangan beliau langsung kami tolak, karena rupanya ikan nila sumbangan paman saya adalah ikan nila yang masih hidup, sehingga kami enggan menerimanya. Maklum saja, kami tidak tega kalau harus menghabisi dan membeteti ikan nila yang masih hidup, soalnya ada beban mental tersendiri. Lagipula, Kami berlima memang sudah kadung terlahir sebagai makhluk yang sentimentil dan terlalu berperasaan. Jangankan membunuh nila, menyentil semut pun kami tak tega :)

Alhamdulillah, berkat permainan cantik kami, tak sampai setengah jam, seluruh ikan nila berhasil kami beteti.

Perkara ikan nila selesai. kini urusan alat yang harus segera diusahakan.

Dan, Beruntung bagi saya karena punya kawan-kawan yang cekatan dan dapat diandalkan. Walau dengan persiapan yang sangat-sangat mepet (karena tidak direncanakan sebelumnya), ternyata kawan-kawan saya bisa mengusahakan beberapa peralatan standar untuk bakar-bakaran, diantaranya adalah anglo, penampang bakaran, arang, kipas, dan lain sebangsanya. Perkara bumbu-bumbu dapur juga tak terlalu jadi soal.

Urusan meracik bumbu dan sambal? Ah, itu urusan Kebo. Si beringas yang satu ini, walau tampangnya gahar, tapi jiwanya adalah jiwa pawon. Ia adalah tipe manusia yang hatinya senantiasa terpaut dengan dapur. Jadi jangan heran kalau si Kebo ini piawai dalam meracik sambal dan bumbu ikan bakar yang nikmatnya setengah modiar.


Kebo (kiri) dan Abed (kanan), menjaga api agar tetap menyala


Sambal kecap racikan Kebo, manis pedasnya tak ada lawan 

So, sama sekali tak ada masalah yang berarti. Dan urusan bakar-bakaran ini pun akhirnya bisa terlaksana dengan sangat sukses.

Kami sengaja membakar ikannya pas sore hari, sekitar jam lima-nan lah, agar nanti si nila bisa kami santap tepat saat bada maghrib. Maklum, biar ada sensasi berbuka puasa, hehehe.


Kita semua tahu, bahwa yang paling arif adalah ia yang membagikan nasi


Bergaya di sela-sela tugas, salah satu metode agar kerja tidak spaneng

Prediksi kami rupanya tak meleset, tepat pas maghrib, ikan-ikan nila ini sudah berbaris rapi di atas nampan.


Nila bakar yang begitu menggoda iman

Dan sepulang dari mushola, saya langsung menyergap si nila yang sedari tadi sudah mengundang birahi ini.

Rasanya? tentu saja enak dan nikmat, saya saja sampai nambah dua kali saking laparnya nikmatnya.


Kebo, dengan segala kelebihan dan kekurangannya


Abed, bukti bahwa penggemar sepakbola latin tak cuma doyan piranha bakar


Gembus, intan permata dalam dunia kernet dan perkondekturan


Nico, si makhluk Tuhan yang paling cengeng

Agaknya memang benar, bahwa makan ikan bakar yang diusahakan melalui sebuah proses kreatif, rasanya jauh lebih nikmat ketimbang makan ikan bakar dari restoran. Apalagi kalau disantap bareng-bareng bersama kawan-kawan dekat.

Jan maknyus, naknan.


Sorry, the description for this image was not found, because its too fuckin damn cool

Yah, untuk saat ini, mungkin hanya sebatas ikan nila yang bisa kami bakar, tapi jika suatu saat sampeyan berkenan untuk ikut bergabung dengan kami, tentu saya dan kawan-kawan akan dengan senang hati mencarikan cicak untuk sampeyan.

Atau, kalau sampeyan merasa sebagai pemuja demokrasi, kami juga tak keberatan untuk mencarikan ban bekas untuk sampeyan.

Btw, kapan terakhir kali sampeyan bakar-bakaran bareng kawan-kawan dekat sampeyan?

- - - - - - - -
Cah Cinta Enterpres, adalah geng yang beranggotakan beberapa personel Geng Koplo yang sering nongkrong di rumah saya. Anggota Cah Cinta Enterpres sudah pasti anggota Geng Koplo. Tapi anggota Geng Koplo, belum tentu anggota Cah Cinta Enterpres (jadi bisa dibilang, Cah Cinta Enterpres adalah geng di dalam geng). Cah Cinta Enterpres bergerak secara independen, dan tidak berafiliasi pada partai manapun, baik partai besar maupun eceran.

Pembunuh Angeline Adalah Kita

| Sunday, 14 June 2015 |



Saya menjalani masa-masa kecil yang teramat sangat indah. Masa-masa hangat dalam belaian kasih sayang orang tua dan lingkungan yang sedemikian ramah pada saya.

Menonton serial Jiban dan Sailormoon di pagi hari sambil ngemil astor dan kacang telor, beradu kelereng dengan kawan-kawan sebaya (walau lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya), berlagak mabuk sambil menenggak minuman (padahal yang ditenggak cuma orson bening), ikut berkumpul dengan ibu-ibu arisan sambil berdiri dan menyanyikan Mars PKK, atau berteriak “montor mabur aku njaluk duite!” dengan penuh kegirangan saat ada pesawat terbang melaju rendah di atas rumah.

Sungguh sebuah kebahagiaan masa kecil yang amat-sangat indah. Kebahagiaan masa kecil yang cukup berwarna untuk mengantarkan saya tumbuh menjadi dewasa dan kemudian mengenalkan saya pada kebahagiaan lain yang bernama jatuh cinta.

Namun ternyata, setelah dewasa, barulah saya menyadari, bahwa ternyata, tidak semua anak punya masa kecil yang seindah masa kecil saya.

Dan Angeline adalah segelintir dari bagian antitesa tersebut.

Betapa tidak, Di usia yang masih sangat merah, ia harus lepas dari asuhan orang tua kandungnya hanya karena masalah biaya persalinan. Ia kemudian hidup dalam lingkungan yang asing dan psikopat. Dipaksa bekerja memberi makan ayam, tidak dirawat dengan baik, diperlakukan tidak senonoh, hingga klimaksnya, ia dibunuh dengan sangat kejam di usia yang baru delapan tahun (dan sialnya, tersangka pembunuh Angeline ternyata punya nama yang sama dengan saya, Agus)

Maka, siapapun pasti akan sangat teriris hatinya kala mengetahui gadis mungil nan cantik ini harus tumbang tak berdaya, tewas di dalam lingkungan yang sepatutnya menjadi lingkaran hangat keluarga.

Miris. Keluarga yang seharusnya menjadi benteng teraman bagi seorang anak ternyata justru menjadi medan pertempuran yang paling sengit dan dipenuhi oleh pembunuh-pembunuh beringas yang siap kapan saja menhunuskan pedangnya, Tanpa rasa ampun, tanpa hati nurani.

Oooo, Tidak… tidak, saya tidak akan menghujat si pembunuh Angeline dengan kata Asu ataupun Bajingan, karena saya sadar, kata Asu dan Bajingan masih terlalu mulia untuk seorang pembunuh gadis kecil yang tak berdosa. Lagian, tidak puas rasanya kalau si pembunuh hanya dihujat, lebih dari itu, ia harusnya disiksa.

Andai dunia ini adalah drama silat klasik, dan saya lah yang jadi pendekarnya, tentu ingin sekali saya turun tangan menyiksa si pembunuh Angeline, menyayatnya dengan pedang naga puspa, dan kemudian meneteskan air perasan jeruk nipis di setiap luka di kulitnya, agar ia mendapatkan luka yang seperih-perihnya. Semata hanya untuk membalaskan dendam Angeline. Tapi agaknya itu tak mungkin, karena saya percaya, gadis manis sekecil dan sepolos Angeline, pasti tak pernah punya dendam.

Lagipula, saya sadar. Agus hanyalah eksekutor, sedangkan pelaku pembunuhan terhadap Angeline yang asli sejatinya adalah kita. Ya, kita. Kita yang kurang peka dan selalu bersikap terlalu biasa pada tindak kekerasan pada anak. Kita yang mendaku sebagai bagian dari Indonesia, negara yang katanya kaya raya, tapi untuk menjamin biaya persalinan para wanita-nya pun tak berdaya.

Ya, Pembunuh Angeline adalah Kita. Sekali lagi, Pembunuh Angeline adalah Kita.

Selamat jalan dek Angeline, selamat Jalan. Agaknya langit memang menjadi taman bermain terbaik untuk dirimu (semoga di langit ada prosotan dan jungkat-jungkit). Kami semua berharap, semoga pelukan manis dari Tuhan senantiasa menghangatkan hari-harimu di sana. Oh ya, Titip salam untuk Bung Karno di sana ya dek, bilang sama beliau, Biaya persalinan di Indonesia sekarang mahal.

Terbit pertama kali di Mojok.co

Karena Garing Selalu Punya Alasan

| Tuesday, 9 June 2015 |

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang sebagai pembicara di acara talkshow yang diselenggarakan oleh forum diskusi kampus di salah satu Universitas di Yogyakarta. Saya diminta untuk membawakan materi tentang sesuatu yang sebenarnya saya kurang menguasai.

Saya sih maklum, soalnya saya sadar, saya memang biasa diundang bukan karena faktor derajat keilmuan, melainkan karena saya dianggap lucu.

Ini wajar, karena dalam sebuah talkshow, selama pembicaranya lucu, audien biasanya akan tetap khusyuk mengikuti talkshow, seburuk apapun materi yang disampaikan.

Mungkin saya memang sudah dikenal sebagai pembicara yang goblok, tapi rodo lucu (yang di jaman sekarang semakin susah dicari, hehehe).

Padahal saya sendiri sih sebenarnya merasa ndak lucu-lucu amat (kalau elegan sih iya). Kalaupun di blog saya ini ndilalah banyak postingan lucu, itu sebenarnya yang lucu temen-temen dan keluarga saya (yang kisahnya saya tulis di blog).

Tapi tak apa lah, sudah kadung ini.

Maka, sebagai pembicara yang diharapkan "kelucuannya" (bukan keilmuannya), pas talkshow, saya pun berusaha membawakan materi dengan se-jenaka mungkin dan penuh semangat (terlebih setelah tahu ternyata audien-nya cantik-cantik). Saya bahkan sengaja banyak menggunakan bahasa jawa untuk menambah nuansa kejenakaan lokal. Harapannya satu, agar audien setidaknya bisa mudeng sedikit materi yang saya sampaikan, dan tetap terhibur dengan guyon yang saya bawakan.

Beberapa kali saya menyisipkan cerita tentang kawan-kawan saya yang saya anggap lucu.

Namun ternyata, krik-krik. Banyak audien yang terdiam, tak banyak yang tertawa.

Saja jadi salah tingkah dan penuh tanya. "Perasaan, saya sudah mencoba membawakan materi dengan sense of humor yang cukup berkelas, tapi kok sedikit ya yang tertawa?"

Batin saya mulai berkecamuk. Apakah saya salah dalam membawakan materi? atau memang humor yang saya bawakan materinya cukup jayus? Ah, perasaan ndak deh. Soalnya beberapa materi humor yang saya bawakan, pernah saya bawakan juga acara talkshow saya yang lain, dan hasilnya audien tertawa tergelak.

Apa yang salah ya? Saya kok merasa jadi garing begini.

Kondisi yang penuh kegaringan ini pun kemudian membuat tenggorokan saya kering. Dan saya pun meminta air pada panitia.

"Mbak, aku njaluk wedange yo, ngelak je, cangkemku garing iki!"

Si mbak Panitia pun hanya mengerutkan dahinya dengan wajah penuh tanya. Saya mencoba menebak, apa yang terjadi, dan sekelebat, saya baru menyadari, si mbak panitia ternyata ndak mudeng bahasa Jawa.

Bagai disambar geledek, saya kemudian tersadar pada sesuatu yang lain.

"Disini siapa yang bisa bahasa Jawa?" tanya saya pada audien.

Dan dari sekitar 50 audien, Tak sampai 10 orang yang mengangkat tangan.

Semprul...

Kini terjawab sudah pertanyaan saya. Pantes saja ndak ada yang tertawa dengan materi saya, lha jebul banyak yang ndak bisa bahasa jawa.

Cuuuk, Tiwas cangkemku ngasi mumpluk le ngomong je. Trembelane...

Agaknya Sun Tzu memang benar, bahwa senjata terbaik dalam sebuah perang adalah "pemahaman yang mendalam tentang musuh"

Bung Karno, Blitar atau Surabaya?

| Friday, 5 June 2015 |

"Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran proklamator kita, bapak bangsa kita, penggali Pancasila, Bung Karno, hati saya selalu bergetar..."

Begitulah potongan pidato presiden Pak Jokowi pada peringatan Hari Lahir Pancasila di Blitar, Jawa Timur tanggal 1 Juni 2015 lalu. Pidato tersebut sontak membuat polemik yang menghebohkan, karena Jokowi menyebut kota kelahiran Bung Karno adalah Blitar. Padahal yang benar adalah Surabaya

Sang Putra Fajar sejatinya memang lahir di Gang Pandean IV Nomor 40, Peneleh, Surabaya. Bukan di Blitar seperti yang disebutkan oleh Pak Jokowi. Kalaupun ada yang salah mengira bahwa Beliau lahir di Blitar, ya maklum saja, soalnya banyak buku pelajaran yang menulis begitu.

Tapi walau demikian, Saya tak ingin menyalahkan dan ikut-ikutan menghujat kesalahan Jokowi yang kesleo lidah dan kesleo pikir karena menyebut Blitar sebagai tempat kelahiran Bung Karno. Bukan, bukan karena saya mendukung Jokowi, tapi karena saya sadar, saya sendiri dulu pun begitu, mengira bahwa Blitar adalah kota kelahiran Bung Karno. Saya tahu kalau Bung Karno itu lahir di Surabaya juga baru beberapa tahun yang lalu, itupun setelah membaca blog-nya pak Roso Daras.

Nah, karena saya merasa punya salah paham yang sama, saya jadi ndak enak untuk ikut-ikutan menghujat pak Jokowi. Lagipula, Saya juga tak ingin menganggu persiapan hajatan nikahan anaknya.

Maka, sebagai rakyat biasa yang manutan, yang bisa saya lakukan hanyalah berbaik sangka, Mungkin saja Pak Jokowi sengaja salah menyebut Blitar sebagai tempat kelahiran Bung Karno, semata agar rakyat mampu bersikap kritis dan empiris. Mungkin saja lho ya, mungkin saja. Hehehe

Lagian jujur deh, sebenarnya selain Jokowi, banyak juga tho dari kalian yang taunya kalau Bung Karno itu lahir di Blitar? Bukan di Surabaya.

Alah, ngaku sajalah... jangan mendadak jadi sok historik dan sok "Jas Merah" gitu, ndak baik buat kesehatan.

Tentang Bisnis Jasa Pacar Sewaan

| Wednesday, 3 June 2015 |

Pacar sewaan
ilustrasi Pacar sewaan, gambar asli dari Merdeka.com


Membaca berita tentang fenomena pacar sewaan yang sedang hangat di media akhir-akhir ini sedikit banyak membuat saya mengelus dada. Prihatin.

Dulu saya meyakini, urusan pacar adalah perkara yang punya level tersendiri. Tak bisa dibaurkan dengan aneka rupa perkara lain yang sifatnya materil. Namun nyatanya, keyakinan saya ini pun akhirnya tumbang di tangan para pebisnis jasa pacar sewaan.

Bedebah!!!

Bisnis sewa pacar ini membuat nilai seorang pacar turun drastis ke level yang jauh lebih rendah. Dari “Pendamping hati” menjadi sebuah “komoditi”. Dan yang pasti, bisnis ini membuat pacar tak lagi sakral.

Pacar tak ubahnya seperti PS 2, yang bisa disewa kapan pun setiap jam-nya (Bedanya, sampeyan tak boleh mencolokkan stik dengan sembarangan).

Tapi, Fenomena ini kiranya memang sudah diramalkan. Semakin pesatnya perkembangan dunia start-up membuat segala sesuatu sangat mungkin untuk dibisniskan. Tak terkecuali pacar. Wajar toh, Lha wong kita ini hidup di zaman dimana sebutir beras pun sudah bisa dipalsukan, maka jangan heran jika pacar pun sekarang bisa disewakan. Tentu ini tak terlepas dari teori ekonomi Supply and demand, dimana ada permintaan, disitu ada semut, eh, penawaran.

Tentu kita mahfum, karena jaman sekarang, pacar semakin susah didapatkan. Maka tak aneh jika kemudian pacar menjadi barang sewa yang bisa dikomersilkan.

Bisnis pacar sewaan ini jelas bisa berjalan dengan baik, karena para pelaku bisnis ini sadar betul, bahwa mereka menjalankan bisnis ini di atas prinsip perniagaan yang tepat. Mereka menyadari benar bahwa segala sesuatu yang terlalu mahal untuk bisa dibeli, biasanya selalu menyisakan celah untuk bisa disewa. Uang memang tak bisa membeli kebahagiaan, tapi kalau menyewa, kelihatannya sih bisa.

Mereka juga paham benar, bahwa para pria dan wanita jomblo yang sudah muak dengan ejekan kawan-kawannya akan selalu berusaha mencari jalan pintas yang longgar. Rasa malu dan jengkel membuat mereka royal dan rela merogoh kocek cukup dalam hanya untuk membuktikan bahwa mereka bisa dan mampu untuk mendapatkan seorang pacar, yah, walau statusnya hanya nyewa.

Faktor-faktor itulah yang kemudian membuat bisnis pacar sewaan ini tumbuh dengan sebegitu suburnya.

Menurut salah satu pengusaha pacar sewaan, omset bisnis ini sangat-sangat menggiurkan. Lha betapa tidak, dalam satu hari, mereka bisa mendapatkan penghasilan kotor hingga dua juta rupiah, dimana nilai profit sharing-nya bisa mencapai 40-50 persen. Siapa yang tergoda dengan jumlah sebesar itu?

Dengan omset segitu besar, tentu banyak orang yang tertarik untuk menggeluti bisnis pacar sewaan ini, tak terkecuali saya. Jujur, Saya sendiri pun sebenarnya pernah punya niatan untuk membuka bisnis jasa pacar sewaan ini, dimana nanti sebagai inventaris awalnya, saya sendiri lah yang bakal turun tangan dengan menjadi pacar sewaan tersebut. Tapi kelihatannya itu bakal sulit. Lha wong mencari cewek yang mau jadi pacar saya secara gratis saja susahnya minta ampun, apalagi sewa.

Untunglah, saya masih cukup sadar dan tahu diri, sehingga niatan saya untuk membuka bisnis pacar sewaan hanya sekadar bayangan saja.

Karena bagaimanapun, Bisnis ini jelas merusak semangat militan para Jomblo dalam perburuan mencari seorang pacar. Semangat membara seorang jomblo yang senantiasa berusaha keras mempraktekan alur metodis sebuah perburuan yang diawali dengan nyepik dan diakhiri dengan penembakan.

Tentu kita harus sadar, bahwa yang istimewa dari seorang pacar bukanlah kecantikan, kebaikan, atau perhatiannya. Lebih dari itu, yang paling istimewa dari seorang pacar sejatinya adalah sensasi saat berusaha untuk mendapatkannya. It’s all about the process, not the result.

Dan bisnis sewa pacar ini telah merusak kerangka proses ini.

Saya berharap, agar para jomblo yang membaca tulisan ini sadar, dan tak terpengaruh dengan promosi massif bisnis sewa pacar yang ramai beredar di sosmed. Percayalah, lebih baik menyendiri dalam kejujuran daripada punya pacar tapi dalam kepalsuan.

Sudah Jomblo, pendusta pula, apa yang bisa sampeyan harapkan?

Untuk para pebisnis pacar sewaan, ayolah, tak bisakah kalian mencari bisnis lain yang lebih menghormati kesakralan sebuah hubungan. Yakinlah, masih banyak kok ceruk usaha lain yang omsetnya tak kalah mengiurkan dari bisnis sewa pacar, misalnya membuka bisnis penerbitan buku indie seperti yang dilakukan Irwan Bajang, atau membuka usaha angkringan Modern seperti yang dilakukan oleh Puthut EA dan Anang Batas.

Dan untuk para pria atau wanita yang mau-maunya dijadikan sebagai obyek pacar sewaan. Segera sadarlah, kalian itu bukan Komik Silat koo Ping Ho, yang bisa dengan begitu mudahnya disewakan di taman-taman bacaan partikelir. Kalian itu terhormat, maka bersikaplah layaknya seperti insan yang terhormat.

Daripada jadi pacar sewaan, hambok mending jadi pacar saya saja. Insha Alloh terpenuhi nafkah lahir batin. Tapi yo itu, isi di luar tanggung jawab percetakan.

*Terbit pertama kali di Mojok.co

Tentang Saya

Agus Mulyadi, seorang blogger, penulis, dan digital storyteller. Lahir di Magelang, 3 Agustus 1991. Sering menulis artikel ringan tentang politik, sosial, isu-isu populer di media sosial, serta catatan reflektif tentang kehidupan sehari-hari utamanya yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, kawan, dan keluarga.

Pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di Mojok.co, sebuah media opini alternatif berbasis di Jogja. Sekarang menjadi manajer di Akal Buku, sebuah toko buku online sederhana yang saya jalankan bersama istri saya.
 
Copyright © 2010 Blog Agus Mulyadi , All rights reserved
Design by DZignine . Powered by Blogger